Gerahana Siang Malam | PARIWISATA MUNA

Gerahana Siang Malam

Sudah aku baca perjalanan kita, itu antara jarum jam teriring
kita buka percakapan dijantung lagu
menandakan ada sesuatu di hari sebelumnya
yang pastinya deretan kata melayang enggan kembali
dan ku namai engkau layangan pamutus nafas
sesadar mungkin ku belai raut wajah angkasa dengan hembusan nafas
setelah lama ku tepis dengan senyum yang membusungkan dada

kali ini kembali kugores lembaran memori di kegelapan
sudah kusimpan dengan rapi pada bundle di kesunyian
sempat ia bertanya, “ mengapa baru sadar dan ingat aku
“ akupun menjawab “karena engkau akupun seperti ini”
kemudian ia kembali berkata “kau kah tulisan seorang pecandu?”
aku hanya mendengar percakapan itu di lubuk nurani
kembali kutitip pandangku pada angkasa
sesungguhnya kanfas nurani itu masih aku simpan
sayangnya hampir dihancurkan embunan jiwa

Bisakah aku berandai, kota mekah itu teramat dekat
kutiduri hingga merasa melayang sampai tenang
bagaimana aku tahu berlian menancap di ubun ubun
sedang mata hari, bulan, gerhana di siang malam
walau sesungguhnya itu bertanda awal terang benderang
di raga, mereka menyandang gelar sarjana
di jiwa, mereka menyandang gelar kiai.


Ragam. 26.04.07 Untuk sebuah kesabaran

Categories:

Leave a Reply