Mengenai <blink>MUNA</blink> | PARIWISATA MUNA


MEMBANGUN, dan terus membangun. Itulah komitmen Ridwan BAE terhadap kampung halamannya. Posisinya sebagai orang No.1 di Kabupaten Muna, memberinya kemudahan untuk mewujudkan ide, gagasan, maupun obsesinya memajukan daerah yang terletak di jazirah Sulawesi bagian tenggara itu. Di bawah kepemimpinan Ridwan, sejumlah potensi daerah berhasil diidentifikasi, antara lain bersumber dari sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan, kelautan serta kehutanan. Sektor pertanian dan perkebunan mengandalkan komoditas jambu mete, kakao dan kelapa. Komoditas jambu mete adalah usaha perkebunan yang dimiliki 50 % masyarakat Muna. Tidak mengherankan jika hampir semua lahan yang ada dipenuhi tanaman ini. Setiap tahunnya Muna mampu memproduksi sekitar 7 ribu ton dari total lahan seluas 38 ribu hektar lebih.


Potensi lain yang memberikan kontribusi tidak sedikit bagi Muna adalah hasil usaha di bidang perikanan dan kelautan. Beberapa komoditas yang dihasilkan dari sektor ini antara lain ikan, mutiara, rumput laut, teripang, lobster, dan kepiting. Dari sekitar 5.625 km2 luas wilayah lautan yang dimilikinya, Muna baru dapat memproduksi sekitar 40 ribu ton per tahun. Khusus dari hasil budidaya ikan jenis kerapu tikus, Muna yakin dapat meningkatkan pendapatan asli daerahnya (PAD). Ridwan optimistis PAD Kab. Muna akan terus bertambah, antara Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar per tahun. Rasanya tak berlebihan. Betapa tidak. Harga komoditas tersebut di pasaran bisa mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per kilogram. Sumber pendapatan daerah Muna yang lain berasal dari sektor kehutanan. Tidak dipungkiri, Muna adalah penghasil kayu jati terbesar di Indonesia, di samping kayu rimba dan rotan.


Sayangnya, hasil dari kayu jati selama ini lebih banyak ‘menguapnya’ ketimbang yang masuk ke kas daerah. Kontribusinya tidak lebih dari 18 %. Di sisi lain, luas lahan potensi kayu jati yang dulunya mencapai 70 ribu hektar lebih, kini terus merosot hingga menyisakan seribuan hektar. ‘’Hasil dari kayu jati itu tidak ada sama sekali. Di sisi lain, kawasan hutan hancur, tidak seperti yang diharapkan. Hutannya hancur, kawasannya hancur, kayunya hancur, uangnya tidak ada. Namun saya bersyukur karena masih mampu mempertahankan dan menarik uang-uang yang selama ini tidak pernah bisa masuk. Soal itu, masyarakat, terutama elit politik, tidak pernah mempersoalkan pada waktu uangnya tidak ada. Tapi herannya, setelah uang masuk, justru hal itu dipersoalkan,’’ ujar Ridwan. Selain mengoptimalkan potensi yang ada, Ridwan dan jajarannya juga terus berupaya menggali dan menemukan potensi lainnya yang diharapkan bisa mendongkrak pembangunan di daerah yang dipimpinnya.


Di sektor pertambangan, misalnya, berhasil diidentifikasi sejumlah hasil bahan galian tambang, antara lain aspal alam dan marmer di Kecamatan Kulisusu, batu gamping di Kabawo, serta pasir kwarsa, logam zulfida, dan minyak bumi. Untuk menarik minat investor menanamkan modalnya di Muna, pemkab setempat memberikan pemotongan pajak dan retribusi untuk investasi dengan jangka waktu tertentu, di samping kebijakan lainnya yang dikemas khusus untuk mempermudah investasi di daerah ini. Ridwan tanpa malu-malu mengakui daerahnya masih terisolir. Keterbatasan sarana transportasi yang mampu membuka akses masyarakat dan perdagangan komoditas di daerahnya, disebutkan Ridwan merupakan kendala yang dihadapinya dalam upaya memajukan daerahnya.


Bayangkan saja, untuk mengangkut dan memasarkan komoditas utama dari daerahnya, jalur transportasi yang ada hanya mengandalkan jalur pelabuhan feri tampo yang memakan waktu lama untuk bisa menjangkau pusat kota Kendari dan beberapa daerah lainnya. Sementara, daerah pemasaran komoditas yang dihasilkan Muna berada di Sulsel dan sebagian di Pulau Jawa. Selain jalur feri tampo, alternatif transportasi lain untuk keluar dan masuk ke Kab. Muna adalah pelabuhan kapal fiber dengan waktu tempuh sekitar 4 jam menuju kota Kendari dan 1 jam lebih menuju kota Baubau. Setelah tiba di kota Kendari, selanjutnya akan ditentukan pilihan transportasi untuk meneruskan perjalanan komoditas tersebut ke tangan para pembeli di daerah lain. Di Kendari, perjalanan distribusi itu akan dilanjutkan dengan beberapa pilihan, yakni melalui pesawat udara, kapal laut atau melalui angkutan darat.


Bisa dibayangkan, berapa nilai kerugian yang akan dialami masyarakat dan para pengusaha jika kondisi transportasi ini terus menerus seperti itu, karena pembengkakan biaya transportasi akan terjadi, dan tidak kalah mengkhawatirkan adalah risiko rusaknya kualitas komoditas sebelum sampai di tujuan. Untuk itu, Pemkab Muna terus berdaya upaya mengatasi keterisolirannya, di antaranya berusaha meningkatkan jumlah armada kapal di jalur pelayaran pelabuhan Tondasi. Jumlah pelayaran melalui pelabuhan ini direncanakan bertambah di tahun-tahun mendatang. Kualitas sarana jalan yang menghubungkan kota Raha, ibukota Kabupaten Muna, dengan pelabuhan Tondasi pun akan dibangun. Pemkab Muna juga berkeinginan besar mengaktifkan kembali lapangan terbang Sugimanuru jadi bandara representatif untuk beberapa penerbangan berkelas nasional. Bupati Muna, Ridwan BAE, semakin bersemangat karena Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara memberikan respon positif tentang rencana pembangunan lapangan udara Sugimanuru.


‘’Apa tujuannya semua ini, tiada lain saya ingin akses hubungan pasar yang ada di Kabupaten Muna ini secara langsung ada. Itu yang menjadi pemikiran saya,’’ terang Ridwan. Tak dapat dipungkiri, Kabupaten Muna di bawah kepemimpinan Ridwan mengalami kemajuan dan perubahan di berbagai sektor, utamanya pembangunan fisik. Namun demikian, Ridwan mengakui dirinya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat. ‘’Karena saya bukan manusia super. Saya juga manusia bisa, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan,’’ akunya. Karena itu, jika ada hal-hal yang tidak berkenan dalam memimpin Muna, Ridwan meminta masyarakat untuk tidak segan-segan menegur dan mengingatkannya, secara kekeluargaan. Ia juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersatu, bersama-sama membangun dan memajukan Muna.

BUILD, and continue to build. That commitment Ridwan BAE to his hometown. His position as the No.1 in Muna, giving ease to realize ideas, ideas, and promote regional obsession which is located in the southeastern peninsula of Sulawesi. Under the leadership of Ridwan, a number of potential areas were identified, among others, comes from agriculture sector, plantation, mining, fisheries, marine and forestry. Agriculture and plantation commodities rely on cashew, cocoa and coconut. Commodities cashew plantation is owned 50% of people Muna. Not surprisingly, nearly all the land is filled with this plant. Muna annually produces about 7 thousand tons of the total land area of 38 thousand hectares more.


Another potential contributing not a little to Muna are the results of operations in the field of fisheries and marine. Some of the commodities produced from these sectors include fish, pearl, seaweed, sea cucumbers, lobsters, and crabs. From about 5625 km2 of sea area which has, new Muna can produce about 40 thousand tons per year. Specific types of fish cultured mouse grouper, Muna sure to increase local own revenues (PAD). Ridwan optimistic PAD District. Muna will continue to grow, between Rp 50 billion to $ 60 billion per year. It was not excessive. Imagine. The price of these commodities in the market could reach USD 300 thousand to USD 400 thousand per kilogram. Muna regional revenue source that comes from other forestry sector. No doubt, Muna is the largest producer of teak in Indonesia, in addition to forest wood and rattan.


Unfortunately, the results of teak has been more 'menguapnya' instead of cash coming into the area. Its contribution is not more than 18%. On the other hand, the potential land area of teak wood that used to reach 70 thousand acres more, now continue to decline until leaving one thousand acres. Results from teak wood''did not exist at all. On the other hand, forest areas were destroyed, not as expected. Forests were destroyed, devastated the region, wood is destroyed, the money is not there. But I am grateful because it is still able to retain and attract the money which it had never been able to enter. Problem was, the community, especially the political elite, is never questioned at the time the money is not there. But surprisingly, after the money came in, instead it was questioned,''said Ridwan. In addition to optimizing the potential that exists, Ridwan and staff also continue to explore and discover other potential that is expected to boost development in the areas they lead.


In the mining sector, for example, successfully identified a number of results of mining minerals such as natural asphalt and marble in the District Kulisusu, in Kabawo limestone, and quartz sand, zulfida metals, and petroleum. To attract investors to invest in Muna, the local district government giving tax cuts and charges for investment with a certain period, in addition to other measures that are packaged specifically to facilitate investment in this area. Ridwan unashamedly admit the area is still isolated. The limited means of transportation that can open people's access and trading commodities in the region, mentioned Ridwan is a constraint that it faces in an effort to develop the region.


Just imagine, for transporting and marketing of major commodities from the region, the existing transportation routes rely tampo ferry port path that takes longer to reach the center of the city of Kendari and some other areas. Meanwhile, the marketing of commodities produced in South Sulawesi and Muna are partially in Java. In addition tampo ferry lines, other transportation alternatives to get out and into the District. Muna is a fiber boat harbor with a travel time of about 4 hours to the city of Kendari and 1 hour to the city of Baubau. After arriving in the city of Kendari, transportation options will be determined to continue the journey of these commodities into the hands of the buyers in other areas. In Kendari, trip distribution will be followed by several options, namely through the aircraft, ship or by land transportation.


It is conceivable, what is the loss that would be experienced by the community and the entrepreneurs if transport conditions are constantly being like that, because of the swelling costs of transportation will occur, and no less worrying is the risk of damage to the quality of commodities before it reached the destination. To that end, Muna Regency Government continues to make an effort to overcome keterisolirannya, including trying to increase the number of ships in the harbor cruise lines Tondasi. The number of shipping through the port is planned to grow in coming years. The quality of roads connecting the city Raha, the capital of Muna, with Tondasi port will be built. Muna Regency Government also intends to reactivate large airfield Sugimanuru so airport representative for several national-class flight. Regent Muna, Ridwan BAE, the more excited as the Ministry of Transportation and Director General of Civil Aviation gave positive responses about the airport development plan Sugimanuru.

( Englis .....)
''What's the purpose of all this, nothing else I want to access existing market relations in this Muna directly there. That's what became my thinking,''the light of Ridwan. It can not be denied, under the leadership Muna Ridwan progress and changes in various sectors, particularly construction. However, Ridwan admitted he could not do anything without the support and participation. ''Since I am not superhuman. I am also human beings can, which has weaknesses and limitations,''he admitted. Therefore, if there are things that no pleasure in leading Muna, Ridwan asking the public not to hesitate to admonish and remind him, in a family. He also invites all community members to come together, jointly develop and promote Muna.

Categories:

Leave a Reply