Raha,sia | PARIWISATA MUNA

Raha,sia

Karya : Royan ikmal
Sutradara : RIL



( Terlihat suasana sebuah tempat yang di tumbuhi pepohonan bamboo-bambu terdengar suara yang membuat manusia merinding hingga dengan kemunculan manusia dari dalam bamboo )

Perempuan 1 :
Telah ku bakar kesedian lewat kesusahanku, ada malam yang aku lukis dalam rasa kalian, hey…..! apakah kesedihan akan abadi ? bukan aku yang mematikannya karena aku hanya mewakili jiwa perempuan yang sama denganku dimana kami hanya ingin mendapatkan apa yang kami ingin dapatkan.

Perempuan 11:
hey…..kesedihanmu hanyalah kesenangan mereka yang tidak pernah mau tahu apa itu kesusahan, seperti aku yang telah mengambil sedikit tawamu Buat kesenanganku. Dulunya aku sama dengan dirimu, anak apilah yang telah memberiku sedikit cahaya, kalian tahu betapa enaknya menyantap bara-bara api ….? Ha..ha…ha.. sayang jarang yang berlangsung lama untuk aku nikmati.

Perempuan 1 :
sebaiknya kau tinggalkan saja terangnya api yang akan membakar dirimu lihatlah aku yang setiap saat menampung kejahatan ldari setiap makhluk, walaupun seperti tercekik tapi aku tidak pernah susah untuk menghapusnya dari tubuhku

Perempuan 11 :
apa kau iri denganku…? Sudah aku panasi hatimu agar kau terlibat denganku tidak sedikit yang aku berikan kepada mereka namun tetap saja tidak berlangsung lama, mungkin kau yang mampu membuat itu bertahan lama coba saja

Perempuan 1 :
kau bahkan tidak pernah tahu siapa aku, apa kita pernah mengenal, atau mugkin mkau adalah saudaraku.

Perempuan 11
kawan, keluarga, bahkan sampai saudaraku pun telah habis aku jual dan aku makan sehingga maku tumbuh subur dan ditakuti oleh smua orang. Dan kau harus mengikuti jejakku jika ingin seperti aku

Perempuan 1 :
tapi ada mesti kau ingat bahwa kau adalah seorang wanita dan ang lebih patut untuk kau pahami, dimana kau berada sejak kau lahir , ( berkata sendiri ) BARAKATINO WITENO WUNA )

Perempuan 11:
masa bodoh dengan kalimat itu sudah tidak pernah aku pikirkan tentang status berteriaklah kau dengan kkejengkelanmu atau kau ingin tetapsabar dalam kesusahannmu

Perempuan 1 :
aku diam bukan berarti aku tidak bias untuk berbuat lihatlah tubuhmu yang besar membengkak akibat makananmu kau bahkan tidak pernah tahu semua tentang dirimu dihadapan mereka apakah kau ingin bertambah bengkak hanya lewat ucapan mereka.

Perempuan 11 :
sudah aku pikirkan semua, dan itu terlintas selalu dalam pikiranku, aku akan berikan separuh dari milikku yang selama ini aku dapatkan apa lagi aku juga pernah berbuat baik dan juga semua urusan tentang kesosialisasian

Perempuan 1 :
( menunjuk ke penonton ) mengertilah sedikit saja, sebenarnya kau tidak memiliki apapun dihadapannya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Tentang daerah kekuasaannmu tentang banyaknya hartamu, dan semua yang kau miliki apakah engkau tidak takut.
Perempuan 11:
hey…… kalau kau bertanya tentang itu aku hanya menjawab dengan satu kata “terserah” A…….lalu apa kau bias…? Ingat, tetsan air tidak akan membuat banjir.

Perempuan 1 :
aku ingin menari, menarikan kesusahan, tapi aku punya satu syarat

Perempuan 11 :
apa itu kalau hanya sedikit aku tidak keberatan

Perempuan 1 :
hanya sebuah permintaaan yang tidak mengeluarkan hartamu

Perempuan 11:
katakanlah cepat

Perempuan 1 :
aku ingin dengan tarianmku ini kau dapat meruntuhkan hatimu walau hanya sedikit saja untuk ikut merasakan betapa susahnya bergerak karena kebingungan dan setelah ini maku ingin kau menarikannya kembali, apakah kau mampu merasaknnya lewat jiwa seni yang aku punya

Perempuan 11:
Ah…….kalau hanya itu aku pasti bisa, ayo kau mulailah tarian kesusahanmu itu aku akan melihatnya ( setelah perempuan 1 menari, perempuan II juga kembali menari seperti yang dilakukan perempuan I )

perempuan 1 :
ha…ha..ha… ternyata kau hanya mampu berbicara kau tidak mampu melakukan apa yang kami lakukan ( tertawa hingga terlihat seperti orang menangis )

perempuan II :
kalau begitu tertawa lah kau bersama kelucuanmu, lihatlah, aku akan menyanyikan lagu buat kamu seperti ibu yang menyanyikan lagu buat anaknya, dan agar kau tahu kalau aku juga dapat merasakan seperti yang engkau rasakan. Sebelum aku bernyanyi ada yang perlu kau tahu, sebenarnya aku juga ingin seperti kalian. ( bernyanyi LAKADANDIO )

Perempuan 1 :
( Tertawa ) ternyata kau pan dai juga bernyanyi tapi kau bukan aku atau mereka, mana mungkin kau bernyanyi dengan membanyangkan aku adalah anakmu, lalu mengapa kau tidak mengambil hikmah dari rasamu itu..? kau pasti hanya berpura-pura.

Perempuan 11 :
Diam kau…..! aku bukan anak ingusan untuk sebuah rasa, tapi bukan berarti aku tidak ada, bukankah aku telah memperlihakan kepada mereka selama ini.

Perempuan 1 :
sedahla pertengkaran bukanlah sebuah penyelesaian aku memang tidak pandai bersilat lidah

Perempuan 11:
Ah…..aku ingin bertan ding denganmu, dan maku yankin kau pasti kalah denganku, atau begini saja, kau hiburlah aku dan akan aku berikan kebahagiaan untukmu bagaimana…?

Perempuan 1 :
kebahagiaan…! Apakah kebahagiaan yang kau berikan lebih baik dari yang aku miliki selama ini ? aku memang pasti kaalah denganmu, tapi saya yakin kau pasti tersiksa dengan rasamu sendiri.

Perempuan 11:
Ah…Sudahlah, aku sudah muak berada ditempat ini, nikmatilah kebahagiaan yang kau miliki, kau akan menyesal nantinya. ( keluar panggung )

Perempuan 1 :
aku seorang wanita, dia….. seorang……ha…ha…ha…ha.aaaaaaaa,.( sambil menyulam ) Muna, pernakah mereka mencatat sesuatu tentangmu, tentang kau dan anganmu, tentang kau dan kesedihanmu, kau dan bahagiamu, tentang kau dan masa depanmu. Dirimu timbul diatas tumpukan pedang dan pecahan beling, hanya ada buatan janji pada kanvas tak terbatas, pada sungai tak bermuara, pada pijak kaki tak berbekas. Bukaknkah siang dan malam telah melupakan kebahagiaanmu. Muna aku hanya mencatat dijrimu dalam angannku, karena kau bisu menanti terang dibalik gelap. ( lalu ia keluar )

Perempuan 11:
aku telah membayangkan semua yang aku lakukan, tapi mengapa setalah aku buktikan semua bertambah parah, mau berkata saja rasanya susah, diluar sana mereka mengatai menyumpai dan bahkan menggali lubang buatku, telah berjuta –juta yang aku berikan kepada mereka yang terdampar, meskipu bitu sangat jauh dari apa yang aku dapatkan dari hasil keringatku selama ini aku juga bias merasakan seperti mereka yang telah pergi dan memotong jalannya untuk kembali, baiklah aku akan bernyanyi untuk mereka yang masih mengingat daerah ini ( sambil menyalakah lilin ia lalu menyanyikan lagu daerah Muna ) OFF Sekian Produksi Teater Empat Raha

Categories:

Leave a Reply