Muna Dalam Raha,sia | PARIWISATA MUNA


Muna, RI: Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki potensi objek wisata bernilai sejarah tentang peradaban masyarakat Muna berumur ratusan tahun selain dari keindahan panorama alamnya.

"Sejumlah objek wisata di Muna memiliki nilai sejarah yang berhubungan erat dengan perkembangan peradaban masyarakat daerah ini," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kab. Muna, La Ode Muhlimin di Raha, Selasa (16/6).

Ia menyebutkan sejumlah objek wisata bersejarah di Muna antara lain obyek wisata Danau Napabale, Danau Motonuno, Goa Metanduno, Goa Liangkabori, Goa Sugi Patani, Benteng Tiworo, dan Kompleks Kerajaan Muna.
Ia mencontohkan, Danau Napabale di Kecamatan Lohia sekitar 15 kilometer dari Kota Raha, ibukota Kabupaten Muna, memiliki terowongan penghubung dengan laut lepas dan danau sepanjang 30 meter itu pada zaman dahulu merupakan tempat persembunyian para nelayan dari aksi perompakan yang dilakukan bajak laut.

Selain itu, Danau Motonuno seluas 400 meter yang terletak 12 kilometer dari Kota Raha, konon sejarahnya sebagai tempat permandian para raja. Penduduk setempat meyakini bila air danau (air tawar) tersebut dicampur dengan air sungai, akan terjadi hujan.

"Danau Napabale dan Dana Motonuno dari air tawar merupakan obyek wisata permandian primadona bagi masyarakat lokal, bahkan sering juga ada wisatawan domestik dan mancanegara yang menikmatinya," ujarnya.

Sedangkan objek wisata Goa Liangkabori, Goa Metanduno dan Goa Sugi Patani yang berjarak sekitar lima kilometer dari Kota Raha, konon sejarahnya menggambarkan tentang corak kehidupan masyarakat Muna zaman dahulu yang suka berburu karena di dalam goa terdapat lukisan bergambar hewan seperti kerbau, sapi, babi dan rusa.

"Konon cerita rakyat bahwa lukisan gambar hewan yang ada pada dinding di dalam goa-goa tersebut sudah berumur ribuan tahun," ujar Muhlimin.

Lokasi objek wisata lain yang tak kalah menarik adalah Benteng Tiworo di Kecamatan Tikep, dan menurut sejarah dibangun pada abad XVI oleh Raja Muna, La Ode Asmana. Pembuatan benteng ini dari bahan batu yang diangkut masyarakat dengan cara berjejer sepanjang 150 kilometer.

Sedangkan Kompleks Kerajaan Muna di Kecamatan Tongkuno dibangun sekitar tahun 1.600 Masehi. Kompleks kerajaan itu dikelilingi tembok batu sepanjang 8.073 meter dengan tebal tiga meter dan tinggi empat meter serta di dalamnya banyak terdapat situs sejarah seperti mesjid pertama di Muna, dan batu tempat pelantikan para raja, makan raja-raja, dan batu berbunga.

Menurut Muhlimin, Pemerintah Kabupaten Muna terus berupaya melestarikan semua objek wisata sejarah tersebut karena selain memiliki makna sejarah yang bisa menjadi objek penelitian, juga bisa menarik wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke lokasi tersebut.

"Saat ini kami belum bisa mempromosikan semua objek wisata tersebut karena fasilitas dan sarana seperti jalan yang menuju ke lokasi objek wisata itu belum memadai," ujarnya, seraya menambahkan, pihaknya mengajak investor untuk mengelola objek wisata tersebut tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan daerah itu.(Roy)

Categories:

One Response so far.

Leave a Reply