Kupu-Kupu Bersayap Palang | PARIWISATA MUNA

Cerpen Kupu-Kupu Bersayap Palang
Oleh : ri


Hari itu di sebuah taman yang sangat sempit aku bersama teman bercerita tentang seekor kupukupu kesayanganku yang terbang tak pernah kembali, setelah 6 tahun lamanya bersama baik senang maupun susah, kita hanya lewatkan semua dengan senyuman, kupu-kupu itu betina dan sangat cantik, warnahnya beragam kalau ia terbang semua mata pasti akan memandangnya sayangnya ia tidak suka bertengger di terik mentari, selama bersamaku hampir tidak pernah ia keluar rumah kalaupun ia keluar, pasti keluar bersamaku itupun hanya ketempat tertentu yang ia sukai salah satunya adalah kebun yang menurutnya pantas untuk ia hinggapi, namun sayangnya ia telah pergi meyelinap di kegelapan dan aku mesti menunggu hujan di padang lumba. Selama kupu-kupu itu pergi tidak ada yang indah menurutku untuk dipandang, makan pun rasanya jadi tawar, padahal aku sudah merencanakan sesuatu untuk dapat menyunting dirinya walau semua orang bilang kalau aku tidak mungkin untuk bersamanya, tapi ada juga yang berkata, jika aku dapat bersanding dengannya maka suatu hari kelak aku dapat terbang seperti yang aku pinta sebab ia seekor kupu-kupu yang membawa keberuntungan. Suatu hari pertengkaran terjadi diantara kita, padahal itu semua hanyalah pertunjukan Tanya apa, mengapa, dan bagaimana, sesuatu yang mengganjal dihatiku yaitu ia tidak menyukai apa yang aku kerjakan sebagai pekerja seni sementara aku hal tersebut sudah menjadi daging yang luka bila di lepaskan, setiap pertengkaran bertengger di mulut, ia hanya menangis dan mengadu kepada induknya, bahkan ia pernah memaki aku dengan bahasa yang sangat mengiris telinga. Hari terus berlalu minggu, bulan, dan bahkan tahunan selalu terjadi pertengkaran bahkan sampai pisah, ia tebang bersama kata dan rindunya dikesunyian tapi semua tidak berjalan lama kalau bukan aku, dia yang megalah, ah…. ai memang seekor kupu-kupu yang sukar aku dapatkan duanya. Pernah beberapa kali aku coba untuk melupakannya agar hatiku dapat melantai dan mungkin juga sebagai seekor kupu-kupu jantan yang mampu berdampingan terbang bebas tapi rasanya itu sangatlah mustahil karena sesungguhnya tubuhku masih terpenggal didahan yang pernah ia hinggapi, yah…….untuk kesekian kalinya aku melayang membawa sayapku yang hampir patah akibat angin yang bertiup begitu kencang hingga menerpaku ke bebatuan, sebetulnya jika aku mau meski tidak seindah bulunya atau harus kupenggal kepalaku, aku sempat terbang bersama seekor kupu-kupu lain, sayangnya sementara waktu ia harus pergi jauh.

perjalananku mungkin tidak begitu panjang karena aku hanya seekor capung jantan tanpa jiwa untuk sesaat, apalagi jika mengingat latar belakangku yang begitu pahit, sejak di usiaku yang masih berbentuk kepompong berusaha terbang kesana kemari hanya ingin mencari sesuatu dibalik yang ada, walau sesungguhnya selama beberapa tahun hampir tidak aku temukan maksud dibalik itu, seperti kawanku pernah mengatakan sebaiknya kau kibaslah angkasa agar kau tahu sehebat apa dirimu jika mampu menerawang bumi dengan semangatmu, sampai suatu saat dihatiku yang ada hanya sebuah tulisan meradang dikepalaku, maka aku kisahkan ia dalam butiran malam yang menjadi teman bercanda, begitu seterusnya hingga aku jadi terbiasa dengan tulisan tulisanku yang menggairahkan, hingga, Ayahku pernah mengisahkan tentang kupu-kupu betinanya diranjang memburu nafsu akibat dari keserakahan, walau sebenarnya ia bukanlah seekor kupu-kupu seperti yang ayahku kisahkan. Dipinggiran pantai aku termenung setahun lebih sudah berlalu dan tidak kulihat senyumnya yang menggeleng udara, ingin rasanya kurangkul rembulan agar tidak ku tinggalkan kenangan di pelupuk mataku untuk sebuah penyesalan, tiba tiba tanpa sengaja seperti ada sesuatu yang memaksa aku untuk menoleh ke suatu tempat dimana ada sebuah cahaya yang sangat membuatku terkejut, begitu kepala kupalingkan aku melihat kupu-kupu itu sedang terbang dengan kupu-kupu lain, tapi yang membuat aku terkejut, seprtinya aku kenal kupu-kupu jantan itu, begitu mata ku belalakan ternyata dia adalah temanku yang bersamaku dulu walau tidak begitu akrab sewaktu masih kecil dan pastinya dia tahu kalau aku selama ini bersama dia. Tapi……………ah sudahlah aku tidak mau memperpanjang masalah yang bukan lagi masalah, sebab aku juga adalah masalah yang bermasalah, bukan hidup yang dihidupkan akan tetapi kehidupan yang sesungguhnya ungkapku dalam hati.

Sepanjang hari aku hanya mengisahkan harapan ranting berdaun emas. Aku jadi teringat sewaktu pertama kali aku mengenal dirinya aku sangat terharu ketika kulihat bagaimana ia melayani saudaranya, induknya, ia seekor kupu-kupu yang sangat manja denganku perhatiannya yang membuat aku jadi susah untuk melupakannya. Seringkali ku bingkis kata lewat tulisan lalu kukirim lewat udara tidak kenal siang bahkan malam pun terus kulakukan walaupun tidak satupun yang terbalas untuk mengobati rasa rinduku padanya itu semua kulakukan agar ia tahu kalau aku juga masih menyimpan kisah narcisus yang melamun dalam kesedihannya, tapi sejujurnya aku ragu dengan semua itu apakah itu sempat singgah di benaknya ataukah langsung disampaikan ke tenggorokannya, aku menoleh kearah temanku sejenak lalu kukatakan padanya tahukah engkau satu hal yang hampir tidak aku rasakan selama hidupku sebuah belaian seekor induk kupu-kupu menggiring aku pada riak air bah membesar yang mengaca dimata itu yang membuat aku terharu, aku merasa berada diambang pintu sorga ketika kudekap rangkulan itu sampai terlelap dalam angan, bahkan suatu hari pada tanggal 26 bulan……..2003 silam, aku di panggil kerumahnya, tidak ada dalam benakku kalau aku akan mendapatkan sebuah surprise katika aku menginjakan kaki di teras rumahnya begitu terkejutnya aku mendengar sebuah syair lagu yang terucap dari mulut seluruh keluarganya aku hanya membalas dengan butiran air mata lalu aku berkata “maaf sayang terlalu rampung buatku untuk semua ini bukannya aku tidak suka tapi tahukah engkau tidak aku dapatkan semua ini dari perjalan panjangku selama hidup, yang aku dapatkan hanyalah sebuah hinaan yang menjadi penghargaan sangat besar buatku” seperti apakah rasanya ketika perayaan hari kelahiran ( ulang tahun ) yang boleh dikatakan sangat diinginkan dan dinantikan oleh semua, hari ini telah aku dapatkan sebuah penghinaan buat mereka, ah…………. aku sampai dibuat lemas dalam kepuasan, ya Allah………tidak kau ciptakan kesejukan jika tidak ada sebaliknya.

Terkadang ia juga amat menjengkelkan, seringkali aku memberinya nasehat kalau sebenarnya kita adalah diri kita sendiri dan bukan yang lain yang akan memberikah sebuah memori indah dimasa depan. Selama aku bercerita anehnya temanku hanya menatapku dengan tatapan yang sangat tajam sambil terdiam, mungkin ia terpana mendengar ceritaku yang begitu serius mengisahkan, aku tidak mau bertanya, mengapa ia tidak pernah sedikitpun berbicara padahal aku sangat ingin mendengar beberapa Tanya yang akan ia lontarkan padaku, nanti setelah kira-kira setengah jam aku bercerita barulah ia berkata “apakah ada kesalahan yang kamu perbuat hingga kupu-kupu itu pergi”? aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya lalu aku mulai bicara, sudah tiga ekor kupu-kupu yang bersamaku semua pergi meninggalkanku tapi beda dengan yang satu ini, ia adalah seeokor kupu-kupu bersayap palang mungkinkah karena ia berbeda faham denganku ataukah keseriusan yang tidak jelas akhirnya aku juga masih bingung, tapi bukan dengan kesalahan melainkan dengan membesarkan kepala mereka, kemudian temanku kembali berkata, berarti sudah terlalu besarkah kau menyayangi kupu-kupu itu? Jika itu benar, iapun pasti demikian, lalu siapa yang mampu memenggal nuraninya untuk kalian dapat bersanding, aku hanya dapat berkata kupu-kupu itu pergi dengan sendirinya berarti ada jalan yang ia temukan menuju kebebasan abadi, bukan denganku tapi dengan kupu-kupu jantan sefahamnya.

Sudah beberapa hari ini aku hanya bercerita dengannya tentunya dengan teman yang sama dan tempat yang sama pula walau dalam sebuah ruangan sempit, yang aku rasakan adalah sebuah lapangan luas karena dia enak diajak ngomong, sepanjang aku bercerita ia selalu menyimak dengan baik yang aku paparkan ia juga pernah mengisahkan perjalanannya dengan tema yang agak lain namun arahnya tetap sama, wah………….ternyata baru aku sadari, selama berhari-hari ku lihat roman yang bukan picisan, ia juga ternyata seekor kupup-kupu yang indah hanya saja ia terlalu terlamapau jauh untuk kurangkul kalau saja ia juga memiliki keinginan terbang bersayapkan batu, ingin rasanya ku ajak ia menuju suatu tempat yang tidak lagi ada yang namanya kerinduan.

Suatu hari akan aku temukan gumpalan salju bertabur emas mengambang di pangkuanku gumanku dalam hati lalu aku tinggalkan temanku bersama kisah yang terbang. Rgm .0240050007

Categories:

Leave a Reply