Sajak Rindu 2 | PARIWISATA MUNA


Sajak  Rindu
Untuk  pengembara  malam


Dari hatiku yang kau setubuhi, hingarbingar
pengembaraanku  mencari  petuah bijak yang berkelayapan
ku dengar  nyanyian  anak  kecil  pada  persimpangan jalan
jemarinya  sudah  lihai  mengutik dawai  di malam hari, aku ingat
kicauan burung di pagi hari,  masih terlalu muda angannya  untuk  berpetualang
lalu siapa yang telah meminjam bahagia,  dengan tidak memberikan warna
kepuasan,  aku tersenyum, hahahaha….dengan kelucuan..?  tidak,  malainkan
isak tangis  penghuni kolong, emperan,  atau tangan yang tidak pernah menyampaikan
inilah siulasi hidup yang semestinya  terbuka untuk  seorang  bangsawan,  pemimpin
atau juragan yang menumpuk  sebagian hak mereka.

kita sekarang berada  dalam sebuah kapal besar  yang  dihuni jutaan jiwa
mampir di sebuah pulau  untuk mengambil bekal dalam perjalanan panjang
dengan nahkoda  akal dan nafsu, bukan persoalan  lapar atau kenyang
namun di baliknya  rimbunan  aral membentang  menggoda  bidadari
bahkan malikat  telah siap  dengan nota  pesanan  untuk menagih  bayaran
 pejamkanlah matamu  jadilah  lorka  lorka  kecil,  yang selalu menulis  syair
syair  rindu  durja malam,  menancap  laksana  akar nyiur  menggali bumi
menembus  sukmasukma  angkara , membongkar, membongkar, membobol
dinding  dunia dengan keringat,  dengarlah, jika   kalimat itu  sudah tidak berarti lagi
maka diamlah  dan renungkan, bahwa   masih ada cinta  untuk  hidup  yang  abadi

Aku berpesan kepada kalian,  ada tujuan  yang semestinya  harus kita capai.
karena  didepan mata, ada tombak yang siap menghunus jantungmu.


  Roy, 30 nov, 11

Categories:

Leave a Reply