Syair Dari Muna Yang Terbang | PARIWISATA MUNA

Untuk Saudaraku

Muna,  Apa yang kini  dapat kami harapkan, sedang sedih masih rindu
Bercengkrama dengan  batin, banyak yang meronta mengais harap
dengan tumpuan belas kasih, namun ada juga yang bertumpuk pada
kekuatan jilatan, ya….jika lidahmu mengeras dari baja atau wajahmu
yang bergambar 1000 matahari berangkali….?  oh..aku harus mengatakan, kalau
yang lemah itu adalah makian dari Nafsu,,,, wah….aku jadi ingat seorang teman yang berkata
” sayang si muna sudah ga perawan lagi ya..? siapa yang  membongkar rahasaianya..?”

Raha,  sesuatu yang tersembunyi, sayangnya itu bukan hal yang
perlu untuk di banggakan, karena rahasia hanyalah bingkai hitam
dari pribadi masingmasing, hei…! lihatlah para penyandang jompo
sedang bergelut dengan budayanya, budaya dengan dasar kebingungan
lalu mengapa adikku bertanya tentang sejarah ini, itu, seharusnya mereka bertanya
mengapa jati diriku hilang…?  yang setiap hari termuat oleh besi 500 juta,
aku hanya melihat bagaimana  anganmu melayanglayang seperti mereka bilang
kalau layangmu adalah yang pertama di jagat raya, seharusnya kalian tulislah
kalau linda bukanlah lindap, ewa bukanlah lewat, rambi bukanlah serambi,
lalu tulislah juga langkah kaki yang bergetar kesal, tangan yang  mengepal batu karang
ada yang mengatakan, “ah….itukan bagian seni, kita juga ada karna seni”
ya…seharusnya seni merangkai nafsu yang berlatar  kebijaksanaan,
                                                                                                        
Raha'sia yang penuh dengan kemuna'fik'an,
bibirku dan ribuan lorong gelap pernah menempel petuah itu, sejujurnya
itu bukanlah kasta yang harus di pertahankan,
65 tahun masa yang begitu indah, sudah berapa kali kita bercermin
dari kisah pejuang kahidupan, berangkali cermin mereka telah pecah
akibat dari kebanyakan  bersolek,  hei….kalian yang menempati  kursi singasana
kehadairanmu karena hasil dari celoteh kami, lalu berapakah harga diri kalian.?
bermimpilah kalau kalian tidak akan mengais rezki dari menggali bumi

Categories:

Leave a Reply